TARBIYAH ONLINE

Fiqh

Rabu, 25 Desember 2019

Sifat Jaiz Bagi Allah, I'tiqad dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah

Desember 25, 2019

Aqidah | Jaiz artinya boleh, dapat juga kita artikan dengan harus. Sifat Jaiz bagi Allah hanya satu, yaitu Memperbuat segala sesuatu yang mumkin/baharu atau meninggalkannya. Maksudnya, Allah Ta’ala boleh-boleh saja memperbuat sesuatu terhadap yang baharu/makhluk dan boleh-boleh saja tidak memperbuatnya.

Dalam I’tiqad 50, sifat Jaiz ini terdapat pada urutan ke-41 setelah 20 sifat yang wajib dan 20 sifat yang mustahil bagi Allah SWT.

Contoh Jaiz pada Allah adalah seperti menciptakan zat-zat tertentu, sifat-sifat, segala perbuatan, baik perbuatan idhtirari maupun ikhtiari, rezeki, menghidupkan, mematikan, mempertunjuk, menyesatkan, menghukum atau mengazab, memberi pahala, dan lain sebagainya. Semua itu adalah boleh atau Jaiz bagi Allah Ta’ala, tidak wajib dan tidak pula mustahil.

Maka dari itu dapat kita pahami yang bahwa azab atau hukuman adalah semata-mata dengan Keadilan Allah Ta’ala, dan pahala atau imbalan adalah semata-mata  dengan Karunia-Nya.

Berdasarkan tertibnya, pahala merupakan balasan terhadap keimanan dan keta’atan, sedangkan siksa atau azab merupakan balasan terhadap kemaksiatan.

Dua hal tersebut yaitu pahala dan siksa adalah semata-mata merupakan pilihan Allah SWT. Jikalau saja Allah membalikkan dua keadaan ini, dengan kata lain Allah memperbuatnya tidak berdasarkan tertib, maka hal tersebut adalah karunia/kebaikan Allah, bukanlah suatu kesalahan. Karena tidak wajib bagi Allah memperbuatnya berdasarkan tertib dan tidak pula mustahil.

Allah Ta’ala memiliki hak mutlak atas setiap ciptaan-Nya, Dia melakukan sesuatu atau merubah suatu keadaan kepada keadaan yang lain sesuai kehendak-Nya. 

Dalil ‘Aqli

Jika Allah Ta’ala wajib memperbuat sesuatu terhadap yang baharu atau katakanlah makhluk, maka menjadi wajiblah sesuatu yang baharu tersebut. Begitupula halnya bila Allah mustahil memperbuatnya, maka jadilah sesuatu itu mustahil. Dan ini adalah bathil (tidak benar), berdasarkan apa yang telah kita pelajari bersama melalui artikel-artikel sebelumnya.

Dalil Naqli

Surat Al-Baqarah ayat 284 :
فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ

“Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya”

Surat Al-Qashas ayat 68 :
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya”

Demikian sekelumit pembahasan tentang sifat Jaiz bagi Allah Ta’ala. Insyaallah pada artikel berikutnya akan kita lanjutkan perihal yang berkaitan dengan para Rasul, yakni 4 sifat yang wajib, 4 yang mustahil dan satu yang jaiz bagi mereka ‘alaihimusshalaatu wassalaam.

Bila kita jumlahkan semua yang sudah kita pelajari selama ini melalui artikel-artikel saya tentang I’tiqad 50 Tauhid dasar Ahlussunnah wal-jama’ah mulai dari 20 sifat yang wajib dan 20 sifat yang mustahil, maka pada artikel ini kita sudah sampai pada masalah I’tiqad yang ke-41 yakni meyakini adanya sifat Jaiz bagi Allah.

Wallahua’lambisshawaab!

Oleh Muhammad Haekal, S.Pd.I Pengajar at Pesantren Tradisional Dayah Raudhatul, juga tayang di Pecihitam.org
Read More

Jumat, 20 Desember 2019

Kenal Ulama: Abu Ibrahim Woyla, Waliyullah Dari Aceh

Desember 20, 2019

Ulama Nusantara | Abu Ibrahim Woyla adalah seorang Ulama  sufi pengembara asal Aceh. Beliau lebih dikenal dengan sebutan Abu Beurahim Keuramat. Memiliki nama lengkap Teungku (ustadz) Ibrahim bin Teungku Sulaiman bin Teungku Husein. Woyla sendiri adalah nama salah satu kecamatan di kabupaten Aceh Barat.

Abu Ibrahim Woyla lahir di kampung Pasie Aceh, kecamatan Woyla, Aceh Barat pada tahun 1919 M. menempuh pendidikan formal dimasa kecilnya hingga tamat di SR (Sekolah Rakyat). selanjutnya beliau sepenuhnya terjun kedalam pendidikan dayah/pesantren tradisional sekitar hampir 25 tahun lamanya.

Pendidikannya

Dalam sejarah pendidikan dayahnya, beliau pernah belajar pada Syeikh Mahmud, seorang Ulama asal Lhok Nga, Aceh Besar selama 12 tahun di dayah Bustanul Huda. Beliau juga pernah berguru kepada Abu Calang (Syekh Muhammad Arsyad), Teungku Bilyatin suak dan Abuya Syekh Muhammad Waly Al-Khalidy (Abuya Mudawaly).

Kehidupannya

Menurut satu riwayat dari menantunya yakni Teungku Nasruddin, Abu Ibrahim pernah menghilang sebanyak 3 kali dimasa hidupnya. Kali yang pertama beliau menghilang selama 2 bulan, kedua beliau menghilang selama 2 tahun dan yang terakhir kalinya Abu Ibrahim menghilang selama 4 tahun, hilang tidak tahu kemana perginya.

Abu Ibrahim Woyla dikenal sebagai sosok ulama yang agak pendiam, hal tersebut memang sudah menjadi bawaannya semenjak kecil hingga masa tua. Beliau hanya berbicara apabila ada hal yang sangat penting untuk disampaikan sehingga banyak orang yang tidak berani bertanya terhadap hal-hal yang terkesan aneh yang dilakukan oleh Abu Ibrahim.

Beliau memiliki dua orang isteri,  yang pertama bernama Rukiah, dari hasil pernikahan ini Abu Ibrahim dikaruniai 3 orang anak, seorang laki-laki dan 2 perempuan. yang laki-laki bernama Zulkifli dan yang perempuan bernama Salmiah dan Hayatun Nufus. Sementara pada isteri keduanya yang beliau nikahi di Peulantee, Aceh Barat, dua tahun sebelum beliau meninggal tidak dikaruniai anak.

Bila kita mendengar kisah kehidupan Abu Ibrahim Woyla, persis seperti kita membaca kisah para sufi dan ahli tashawwuf. Banyak sekali tindakan aneh bin ajaib yang dikerjakan Abu Ibrahim semasa hidupnya yang terkadang tidak dapat dicerna dengan logika, karena kejadian yang diperankannya termasuk di luar jangkauan akal pikiran manusia.

Untuk mengenal prilaku Abu Ibrahim Woyla  kita mesti menggunakan pikiran alam yang berbeda sehingga menemukan jawaban  terhadap apa yang dilakukan Abu Ibrahim itu benar adanya dan ada hikmah tersendiri dibalik tingkah lakunya itu.

Beliau memilik banyak karamah yang dalam bahasa aceh disebut Keuramat, oleh karena inilah beliau juga dikenal dengan sebutan Abu Beurahim/Ibrahim Keuramat.

Sebagian ulama di Aceh menilai bahwa Abu Ibrahim Woyla adalah seorang ulama ‘Arifbillah yang sudah mencapai tingkat Waliyullah. hal itu diakui Teungku Nasruddin, memang banyak sekali laporan yang diterima oleh keluarga dari masyarakat yang menceritakan seputar  peristiwa ajaib dalam kehidupan Abu Ibrahim Woyla.

Menurut pengakuan Tgk Nasruddin , dilihat dari kehidupannya, Abu Ibrahim Woyla seakan-akan tidak lagi membutuhkan hal-hal yang bersifat duniawi. Ia mencontohkan, kalau misalnya beliau memiliki uang, uang tersebut bisa habis begitu saja dalam sekejap, dibagikan kepada orang yang membutuhkan.

Biasanya Abu Ibrahim Woyla membagikan uang itu kepada anak-anak  dengan tidak memperhitungkan jumlahnya. Begitulah kehidupan Abu Ibrahim dalam kehidupan sehari-hari.

Abu Ibrahim Woyla berpulang ke Rahmatullah pada hari sabtu pukul 16.00 WIB tanggal 18 Juli 2009 di rumah anaknya di kampung Pasie Aceh Kecamatan Woyla Induk, Kabupaten Aceh Barat. Beliau tutup usia pada umur 90 tahun.

Dihari wafatnya Abu Ibrahim, ribuan orang datang melayat, dan ini terjadi selama hampir 30 hari setelah kepergiannya. Ribuan masyarakat Aceh berduyun-duyun datang ke kampung Pasie Aceh untuk berziarah. Bahkan sampai saat ini pun makam beliau tidak pernah sepi dari penziarah setiap harinya.

Demikian sekilas tentang sosok Waliyullah yang sangat masyhur di Aceh. Sebenarnya sangat banyak cerita-cerita ajaib nan aneh yang terjadi pada beliau, namun disini saya hanya menuliskan sejarah singkat tentang kelahiran beliau, pendidikan, dan kehidupannya saja dengan sangat ringkas. Semoga bermanfaat untuk menambah khazanah para pembaca. Wallahua’lambisshawab!

(Referensi: dari berbagai sumber bacaan dan diperkuat dengan cerita masyarakat sekitar)

Oleh Muhammad Haekal, Alumni Ponpes Moderen Babun Najah Banda Aceh sekaligus Santri di Dayah Raudhatul Hikmah Al-Waliyyah, Banda Aceh
Artikel ini juga telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Selasa, 17 Desember 2019

Kenal Ulama: Abidah al-Madaniyah, Budak Wanita yang Menjadi Ulama Hadits Terkemuka

Desember 17, 2019

Tokoh Ulama | Harta dan kedudukan dikejar manusia untuk menaikkan status sosial. Namun, sejatinya bukan materi yang bisa menaikkan derajat seorang hamba. Akan tetapi ilmu agamalah yang bisa mengubah kedudukan orang menjadi mulia di mata manusia dan di hadapan Allah SWT, seperti kisah Abidah al-Madaniyah seorang atbaut tabiin dari budak menjadi ulama.

Allah menjanjikan dan menjamin orang yang beriman dan berilmu untuk diangkat derajatnya, seperti firmanNya dalam surah (Mujadalah: 11), “…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.  Dan Allah Maha Mengetahui atas apa yang kamu kerjakan.”

Ilmu agama pula yang mengangkat derajat hidup Abidah al-Madaniyyah. Ia awalnya hanya seorang hamba sahaya [budak] dari Muhammad bin Yazid, namun kegigihannya belajar ilmu sangat kuat hingga di akhir hayat, maka ia terus dikenang sebagai ulama wanita dan ahli hadis terkemuka.

Imam Khatib al-Baghdadi dalam kitab Tarikh Baghdad menyebutkan bahwa Abidah al-Madaniyah sebagai salah satu dari tiga nama perawi hadis wanita pada era 200-300 H. Ia dikenal karena memiliki hafalan yang kuat dan kecerdasan di atas rata-rata.

Ketika masih kecil Abidah adalah budak Muhammad ibn Yazid di Madinah. Namun statusnya sebagai hamba sahaya tak menghalanginya untuk menuntut ilmu agama. Ia aktif  belajar dari ulama-ulama hadis di Madinah. Setiap hari selepas menyelesaikan pekerjaan rumah, ia berangkat menuju majelis ilmu. Aktivitas itu terus ia kerjakan hingga ia dapat  menghafal hampir 10.000 hadis dan memiliki sanad dari guru-gurunya yang berada di Madinah.

Suatu ketika, Muhammad ibn Yazid bertemu dengan ulama hadis dari Andalusia, Habib Dahhun, saat menunaikan ibadah haji. Muhammad ibn Yazid menceritakan tentang sosok Abidah yang sangat cerdas dan menguasai banyak jalur periwayatan hadis. Habib Dahhun tertarik dengan sosok Abidah. Ia pun meminta agar Abidah mengikuti majelis ilmu yang digelar Habib Dahhun selama menunaikan ibadah haji.

Mengetahui bakat dan kecerdasan Abidah, Muhammad ibn Yazid merasa sosok Habib Dahhun tepat menjadi guru Abidah. Kemudian Ia pun memerdekakan Abidah. Setelah merdeka, Habib Dahhun lantas menikahinya. Abidah pun ikut bersama Suaminya kembali ke Andalusia, Spanyol, mereka menjalani kehidupan rumah tangga disana. Dan Abidah mengembangkan ilmu bersama suaminya. Berkat bimbingan sang suami, keilmuan Abidah di bidang hadis sangat diakui.

Dr Mohammad Akram Nadwi dalam bukunya Al-Muhaddithat: The Women Scholars in Islam mengungkapkan ada hampir 8.000 Muslimah  yang menjadi perawi hadis. Ia menempatkan sosok Abidah al-Madaniyah sebagai wanita dari kalangan atbaut tabiin nomor empat yang paling banyak meriwayatkan hadis, setelah Ummu ad-Darda dan Amrah binti Abdurrahman.

Periwayatan hadis dari Abidah diterima karena ia adalah sosok perawi yang tepercaya. Abidah tumbuh menjadi ulama yang salihah, alim, jujur, dan jauh dari dusta. Di masa itu, banyak sosok wanita yang mengukir prestasi sebagai ulama hadis. Mereka berasal dari latar belakang yang sangat beragam. Termasuk kehadiran Abidah yang awalnya adalah seorang budak dan akhirnya menjadi ulama.

Sosok seperti Abidah dan perawi hadis wanita di masanya, seperti Abdah bin Bishr, Ummu Umar ath-Thaqafiyyah, Khadijah Ummu Muhammad, Abdah binti Abdurrahman dan lainnya, membuktikan ilmu Islam bisa dipelajari siapa saja. Termasuk dari kalangan wanita. Bahkan tidak sedikit laki-laki yang berguru untuk mengambil hadis dari para perawi hadis Muslimah ini. Seperti halnya yang dilakukan Imam Syafi’i kepada Sayyidah Nafisah binti al-Hasan.

Abidah al-Madaniyyah sering menjadi acuan bahwa Islam juga memberikan porsi besar kepada wanita dalam hal pendidikan. Ilmu hadis yang mensyaratkan sosok perawi secara ketat membuktikan, Abidah dan perawi hadis Muslimah lainnya bisa menyamai laki-laki dalam hal ilmu.

Setelah hidup di Andalusia, tidak banyak catatan yang mengisahkan kehidupan Abidah hingga akhir. Dan tidak di ketahui secara pasti, dimana Abidah dimakamkan dan kapan beliau wafat

Dari kisah Abidah al-Madaniyah, terbuka satu wawasan baru bahwa dalam khazanah keilmuan Islam, perempuan juga memiliki peran penting sebagai pembawa tongkat ilmu pengetahuan agama, khususnya hadis. Perempuan juga tidak hanya menjadi murid. Namun, mereka juga mampu menjadi guru dari para ulama’ laki-laki terkemuka. Wallahu A’lam.

Oleh Nur Faricha, Aktivis at LPM Nabawi Darus-Sunnah, Santri Pondok Pesantren Darus Sunnah | Mahasiswa Fakultas Dirosat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Minggu, 15 Desember 2019

Kenal Ulama: Biografi Syeikh Ibrahim Al Bajuri Penyusun Hasyiyah Al Bajuri

Desember 15, 2019

Tokoh Ulama | Nama lengkap beliau adalah Burhanuddin Ibrahim al-Bajuri bin Syeikh Muhammad al-Jizawi bin Ahmad. Beliau di lahirkan di desa Bajur dari propinsi al-Munufiya Mesir tepat pada tahun 1198 H/1783 M. Sejak kecil beliau hidup di kalangan orang-orang shalih karena orang tua beliau juga seorang ulama yang alim dan shalih pula.

Tahun 1212 H beliau berangkat ke al-Azhar untuk mengambil ilmu dari para syeikh-syeikh di Universitas tertua tersebut. Pada tahun 1213 H/1798 M Perancis telah menduduki Mesir sehingga membuat beliau keluar dari al-Azhar dan tinggal di Jizah selama beberapa tahun, dan beliau kembali lagi ke al-Azhar setelah Perancis keluar dari Mesir pada tahun 1216 H/1801 M.

Guru-gurunya

Diantara guru-guru beliau di al-Azhar adalah :

1. Syeikh Muhammad al-Amir al-Kabir al-Maliki, seorang ulama terkenal di Mesir, seluruh ulama mesir ketika itu mengambil ijazah dan sanad kepadanya. Syeikh Ibrahim al-Bajuri mendapat ijazah seluruh yang ada dalam kitab tsabat beliau.

2. Abdullah asy-Syarqawi, beliau merupakan ulama yang alim dan terkenal di Mesir dan di dunia islam, karangannya yang banyak membuat nama beliau meroket di seantero dunia, terlebih lagi beliau mendapat jabatan memimpin al-Azhar dan menjadi Syeikhul Azhar.

3. Syeikh Dawud al-Qal’i, beliau adalah ulama yang arif dan bijaksana.

4. Syeikh Muhammad al-Fadhali, beliau seorang ulama al-Azhar yang alim dan sangat mempengaruhi jiwa Syeikh Ibrahim al-Bajuri.

5. Syeikh al-Hasan al-Quwisni, beliau adalah seorang ulama yang hebat sehingga di beri tugas untuk menduduki kursi kepemimpinan al-Azhar dan dilantik menjadi Syeikhul azhar pada masanya.Beliau memiliki semangat yang besar dalam belajar dan mengajar. Beliau menghabiskan waktu dari pagi hari hingga waktu isya malam hanya bersama pelajar mengajar mereka dan menulis kitab. Setelah itupun beliau masih menyempatkan untuk membaca al-quran dengan suara beliau yang merdu sehingga banyak orang yang datang untuk mendengarkannya.

Karangan Imam Ibrahim Al-Bajuri

Dalam masa yang begitu muda Syaikh Ibrahim al-Bajuri telah mampu menghasilkan beberapa buah karya yang begitu bernilai, hal ini tentu saja disebabkan kepintaran dan keberkatan ilmu beliau, diantara kitab-kitab yang beliau karang adalah :

1. Asyiyah Ala Risalah Syeikh al-Fadhali, merupakan ulasan dan penjelasan makna ” La Ilaha Illa Allah “, kitab ini merupakan kitab yang pertama sekali beliau karang, ketika itu umur beliau sekitar 24 tahun.
2. Hasyiyah Tahqiqi al-Maqam `Ala Risalati Kifayati al-`Awam Fima Yajibu Fi Ilmi al-Kalam, kitab ini selesai pada tahun 1223 H.
3. Fathu al-Qaril al-Majid Syarh Bidayatu al-Murid, selesai di karang pada tahun 1224 H.
4. Hasyiyah Ala Maulid Musthafa Libni Hajar, selesai pada tahun 1225 H.
5. Hasyiyah `Ala Mukhtasor as-Sanusi (ummul Barahain), selesai pada taun 1225 H.
6. Hasyiyah `Ala Matni as-Sanusiyah fil mantiq, selesai pada tahun1227 H.
7. Hasyiah `ala Matan Sulama fil Mantiq.
8. Hasyiah `ala Syarh Sa`ad lil aqaid an-Nasafiyah.
9. Tuhfatu al-Murid `Ala Syarhi Jauharatu at-Tauhid Li al-Laqqani, selesai pada tahun 1234 H.
10. Tuhfatu al-Khairiyah `Ala al-Fawaidu asy-Syansyuriyah Syarah al-Manzhumati ar-Rahabiyyah Fi al-Mawarits, selesai pada tahun 1236 H.
11. Ad-Duraru al-Hisan `Ala Fathi ar-Rahman Fima Yahshilu Bihi al-Islam Wa al-Iman, selesai pada tahun 1238 H.
12. Hasyiyah Ala Syarhi Ibnu al-Qasim al-Ghozzi Ala Matni asy-Syuja’, selesai di tulis pada tahun 1258 hijriyah. Ini merupakan kitab yang di pelajari di al-Azhar dan seluruh pesantren di Nusantara hingga sekarang. Kitab ini beliau tulis di Makkah tepat di hadapan Ka`bah dan sebagiannya di Madinah tepat di samping mimbar Rasulullah SAW dalam masjid Nabawi.
13. Fathul Qarib Majid `ala Syarh Bidayah Murid fi ilmi Tauhid, selesai beliau karang tahun 1222 H.
14. Manh al-Fattah `ala Dhau’ al-Mishabah fin Nikah.
15. Tuhfatul Basyar, ta`liqat `ala Maulid Ibnu Hajar al-Haitami.
16. Ta`liqat `ala tafsir al-Kisyaf.
17. Hasyiah `ala Qashidah Burdah.
18. Fathul Khabir Lathif fi ilmi Tashrif.
19. Risalah fi ilmi Tauhid yang kemudian di syarah oleh ulama Nusantara, Syeikh nawawi al-bantani dengan nama kitab beliau Tijan Ad-Daruri.
20. Hasyiah `ala Qashidah Burdah lil Bushiry. Dan lain-lain

Menjadi Grand Syeikh Al-Azhar

Setelah Syaikh Ibrahim al-Bajuri mendapatkan ilmu yang banyak dari para gurunya, akhirnya beliau diangkat menjadi seorang tenaga pendidik di al-Azhar.

Dengan tekun dan keikhlasan beliau mengajar dan belajar, hingga pada akhirnya pada tahun 1263 H/1847 M. beliau mendapat posisi yang tinggi diangkat menjadi Syeikhul al-Azhar ke 19 menggantikan Syaikh Ahmad al-Shafti yang telah wafat.

Pada saat itu pemimpin Mesir Abbas I beberapa kali mengikuti pengajian beliau di al-Azhar dan mencium tangan beliau.

Di zaman pemerintahan Said Pasha, Syaikh Ibrahim al-Bajuri jatuh sakit. Hingga beliau kerepotan mengurus al-Azhar. Al-Azhar tidak mengangkat Syeikh Al-azhar lain sehingga beliau wafat.

Setelah menebarkan ilmunya kepada generasi selanjutnya, akhirnya Imam Ibrahim al-Bajuri menghembuskan nafas terakhirnya meninggalkan dunia yang fana menghadap Allah SWT dengan tenang dan ridha.

Beliau meninggal duani pada hari kamis tanggal 28 Dzulqa`idah tahun 1276 H bertepatan pada 19 juli 1860 M, beribu pelayat hadir untuk menyalatkan Imam besar Ibrahim al-Bajuri. Beliau di shalatkan di Masjid al-Azhar asy-Syarif dan di kuburkan di kawasan Qurafah al-Kubra masyhur dengan sebutan al-Mujawarin.

Pemegang Teguh Aqidah Asy`ariyah

Pada masa hidup Syaikh Ibrahim al-Bajuri mazhab Asy`ariyah berkembang sangat pesat, tidak berbeda dengan masa masa pemerintahan Salahuddin al-Ayyubi sampai hilangnya al-Ayyubiyyah dan bertukar menjadi pemerintahan Mamalik.

Mazhab `Asy`airiyah merupakan mazhab ahlussunnah yang berkembang dari negeri barat didaerah Maroko sampai negeri Indonesia. Pada masa Ibrahim al-Bajuri sudah mulai terdengar dan hidup mazhab yang berbeda dari mazhab ahlussunnah Wal Jama`ah, yaitu mazhab Wahabi di bahagian timur negeri Hijaz.

Ketika itu mereka belum dapat menguasai semenanjung Arab, aqidah mereka sangat bertentangan dengan mazhab Ahlusunnah Wal Jama`ah yang di bawa oleh ulama-ulama terdahulu, mereka berpendapat ulama-ulama Ahlussunnah yang bermanhaj `Asy`ariyyah adalah sesat lagi menyesatkan dan mesti dibasmi habis.

Tetapi madzhab wahabi ketika itu belum bisa berkembang di sebabkan adanya kekhalifahan Utsmaniyah yang menjaga mazhab ahlussunnah Wal Jama`ah al-`Asy`ariyyah.

Diantara hasil tulisan Imam al-Bajuri yang membicarakan tentang tauhid didalam minhaj al-`Asy`ariyyah adalah:

1. Hasyiyah Kifayatu al-`Awam yang di beri nama Tahqiqul al-Maqam. kitab ini merupakan karangan guru Imam al-Bajuri yaitu Syeikh Muhammad al-Fadhali. Kitab ini di pelajari oleh pelajar-pelajar al-Azhar dan di pondok-pondok pesantren dan dayah-dayah di Nusantara. Kitab ini menjelaskan sifat dua puluh yang wajib bagi Allah, dua puluh sifat yang mustahil bagi Allah, dan satu sifat yang boleh bagi Allah, kemudian di terangkan sifat-sifat yang wajib, mustahil dan boleh bagi para Rasul-Rasul Allah, kitab ini sangat bagus sekali di pelajari bagi pelajar ilmu tauhid tingkat pemula.

2. Al-Fathu al-Qarib Majid Syarah Bidayat al-Murid, kitab ini adalah karangan al-Imam as-Siba`i, didalamnya memuat tauhid aqidah al-`Asya`irah, Imam Ibrahim mencoba mensyarah dan menjelaskan isi kitab ini agar mudah di fahami oleh para pelajar.

3. Hasyiyah `Ala Matni as-Sanusiyah, kitab Matan as-Sanusiyah di karang oleh Imam Sanusi, seorang ulama mazhab Maliki yang teguh berpegang kepada mazhab Asy`ari dalam aqidah.

4. Tuhfatu al-Murid `Ala Syarah Jauharatu at-Tauhid, kitab ini merupakan Syarah dari matan manzhumah Jauharatu at-Tauhid yang sangat terkenal di kalangan para penuntut ilmu agama, hasil karya Syeikh Ibrahim al-Laqqani.

Imam al-Bajuri mencoba menumpukan segala kemampuannya dan keahliannya untuk mensyarahkan kitab ini, dengan cara mengulas dan memutuskan mana yang tepat dan rajih dikalangan ulama Ahlussunnah.

Beliau juga mengisinya dengan dalil naqal dan akal, kemudian beliau juga menyebutkan perbedaan pendapat diantara `Asy`ariyyah dan Maturidiyyah didalam sebahagian permasalahan.

Empat kitab diatas adalah ilmu tauhid, sehingga dapat kita simpulkan bahwa beliau seorang ulama `Asy`ariyyah yang kuat dan memiliki peranan dalam mengembangkan mazhab `Asya`irah.

Keahlian beliau bukan saja didalam tauhid bahkan didalam segala disiplin ilmu agama seperti Fiqih, Tafsir, Hadis, Bayan, Mantiq, Fara`idh dan lain-lainnya.

Disebutkan dalam manaqibnya, Syeikh Ibrahim Al-Bajuri adalah seorang ulama yang amat mencintai dzurriyah Rasulullah SAW. Ia rajin mengunjungi dan berziarah kepada para ahli bait, baik yang masih hidup mau­pun yang sudah wafat. Bukti kecintaannya terlihat dari salah satu karyanya, Hasyiyah ‘Ala Syarh Ibn Qasim.

Al-Bajuri menampakkan kecintaannya dan semangatnya bertabarruk dengan ahlul bait Nabi SAW dan ulama salaf shalih, khususnya Sayyid Ahmad Al-Badawi. Dalam kitab karyanya tersebut, secara khusus ia menyarankan kepada siapa pun yang mengkhatamkan kitab tersebut itu untuk membacakan hadiah Fatihah bagi Sayyid Ahmad Al-Badawi karena beliau mengkhatamkan penulisan kitab tersebut tepatnya pada hari haul maulid Sayyidi Ahmad al-Badawi.

Oleh Arif Rahman Hakim, Pengurus PWCINU dan LAZIZNU Okinawa - Jepang Tahun 2017

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Rabu, 11 Desember 2019

Kenal Ulama: Syeikh Ahmad Khatib Sambas, Sufi Kelahiran Kalimantan

Desember 11, 2019

Tokoh | Menjadi seorang pengkaji dalam dunia persufian, terkadang membuat kita berkesimpulan bahwa tokoh tokoh sufi hanya berasal dari Persia, Al Andalusia dan sekitarnya.

Padahal jikalau kita mencoba membuka sejarah, rupanya di Indonesia sendiri hidup para sufi yang berasal dari berbagai penjuru, yang sekalipun kiblat mereka adalah para sufi terdahulu.

Salah satunya seperti Hamzah al Fansuri yang berkelahiran Sumatera Utara dan Yusuf al Makassari yang berasal dari Makassar, dan kini penulis akan paparkan terkait kisah hidup dari syaikh Ahmad Khatib Sambas yakni seorang Syaikh berkelahiran Kalimantan.

Syaikh Ahmad Khatib Sambas yang bernama lengkap Syaikh Muhammad Khatib bin Abdul Ghaffar As Sambasi, beliau lahir pada tahun 1217 Hijriah di Sambas, Kalimantan Barat.

Beliau lahir dari keluarga perantau yang mana ayahnya bernama Abdul Ghaffar bin Abdullah bin Muhammad bin Jalaluddin. Pada saat itu Kalimantan Barat memang masih menjadikan tradisi perantauan sebagai cara hidup bermasyarakat.

Pada masa kecilnya beliau diasuh oleh pamannya yang terkenal alim di wilayahnya, hingga dari sini beliau tergerak untuk mempelajari ilmu ilmu Agama, dengan berguru dari satu ke yang lainnya.

Beberapa gurunya yakni Syaikh Dawud bin Abdullah bin Indris al Fantani (w. ± 1843), Syaikh Syamsuddin, Syaikh Muhammad Arsyad al Banjari (w. 1812), Syaikh Ibn ‘Ali al Sanusi (w. 1859), Syaikh ‘abd al Hafiz ‘ajami, Utsman bin Hasan Ad Dimyathi (w. 1849), dan lainnya.

Atas kepiawaian beliau dalam menuntut Ilmu dikatakan bahwa diantara murid Syaikh Syamsuddin rupanya, Syaikh Ahmad Khatib Sambas lah yang mencapai pada tingkat kemampuan dan wewenang tertinggi. Maka tak heran jika pencapaian spritualnya ini menjadikan beliau sebagai Syaikh yang terhormat di zamannya dan berpengaruh di seluruh Indonesia.

Bahkan beliau juga ditetapkan sebagai Syaikh Mursyid Kamil Mukammil dalam lingkungan tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyah yang berasal dari ajaran Syaikh Syamsuddin.

Itulah mengapa jika dalam pandangan Muhammad Naquib al Attas (cendekiawan dan filsuf muslim yang berasal dari Malaysia) mengatakan bahwa Syaikh Ahmad Khatib adalah Syaikh yang telah mengkombinasikan antara tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyah.

Dan siapa sangka? Pengkombinasian tarekat ini rupanya sangat berpengaruh di Melayu dan Indonesia. Selain itu ada tiga pesantren besar di Jawa yang malah merupakan pusat tarekat ini yakni Pesantren Suryalaya di Tasikmalaya (Jawa Barat), Pesantren Futuhiyah di Mranggen (Jawa Tengah) dan di Pesantren Darul Ulum di Peterongan (Jawa Timur). 

Adapun pokok pokok ajaran dari tarekat dari  tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyah yakni;

Kesempurnaan Suluk

Yang perlu diketahui terlebih dahulu ialah pengertian dari suluk itu, suluk dalam artian tasawufnya ialah menepuh jalan menuju Allah. Sehingga dalam menempuh kesempurnaan suluk rupanya perlu meracik tiga istilah atau term dalam satu ajaran, dan ketiga istilah tersebut yakni Iman, Islam dan Ihsan.

Adab

Pada ajaran ini tentu membuktikan bahwa Adab atau etika dianggap sangat penting, karena tanpa adab tentu seorang salik tidak akan mungkin mencapai tujuan suluknya. Dan memandang ruang lingkup adab yang dipraktikkan oleh seorang salik yakni meliput pada Adab kepada Allah dan Rasul-Nya, kepada Syaikh, kepada Ikhwan dan adab kepada diri sendiri.

Dzikir

Dalam tarekat Dzikir yang dikembangkan oleh Syaikh Ahmad Khatib inilah yang membedakan tarekatnya dengan tarekat yang lain. Yang dimana pada aktivitas tarekat ini  meliputi aktivitas lidah baik itu pada lidah fisik maupun lidah batin yang tak hentin hentinya mengingat dan menyebut Asma Allah

Muraqabah

Muraqabah sendiri dalam pandangan tasawuf diartikan sebagai kontemplasi kesadaran seorang hamba yang secara terus menerus diawali Allah disetiap keadaan. Dan tentu pada pelaksaan Muraqabah ini dilaksanakan dalam setiap rangka latihan psikis demi menerima limpahan karunia dari Tuhan sehingga menjadi mukmin yang sesungguhnya.

Disisi lain, melalui muraqabah inilah seseorang akan terus mengawasi hati mereka dan memperoleh wawasan tentang hubungan hati dengan penciptanya dan lingkungannya sendiri.

Namun yang menjadi catatan pentingnya ialah, ternyata Syaikh Ahmad Khatib Sambas tidak lama di Indonesia. Karena dalam catatan sejarah sendiri dikatakan bahwasanya pada usia 19 tahun beliau melanjutkan studi dan menikah dengan seorang waita Arab keturunan Melayu. Beliau menetap di Makkah sampai pada akhirnya beliau wafat disana pada tahun 1289 Hijriah.

Itulah sekilas kisah hidup dari Syaikh Ahmad Khatib Sambas, semoga bermanfaat.

Oleh Nonna, Mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Selasa, 10 Desember 2019

Kenal Ulama: Biografi Singkat Abuya Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki

Desember 10, 2019

Tokoh Ulama | Abuya As-Sayyid Muhammad bin As-Sayyid Alawi Al-Maliki Al-Hasani, adalah Imam Ahlussunnah Waljamaah Abad 21. Lahir di kota Makkah tahun 1365 H / 1945 M. Pendidikan pertamanya adalah Madrasah Al-Falah Makkah, dimana ayah beliau As-Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani sebagai guru agama di sekolah tersebut, yang juga merangkap sebagai pengajar di Halaqoh Masjidil Haram Makkah yang tempatnya sangat masyhur dekat Babussalam.

Setelah As-Sayyid Alawi Al-Maliki wafat, putra beliau (Abuya As-Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani) tampil sebagai penerus. Disamping mengajar di Masjidil Haram, beliau juga diangkat sebagai dosen di Universitas King Abdul Aziz Jeddah dan Univesitas Ummul Qura Makkah dengan mata kuliah Ilmu Hadits dan Ushuluddin.

Cukup lama beliau menjalankan tugasnya sebagai dosen di dua universitas tersebut, sampai beliau memutuskan mengundurkan diri dan memilih mengajar di Masjidil Haram sambil membuka Majlis Ta’lim di kediaman beliau kawasan Utaibiyyah Makkah. Tak lama kemudian, beliau pindah ke kawasan Rushoifah Makkah. Di Rushoifah inilah Abuya membuka pesantren dimana kebanyakan santri yang mukim di kediaman beliau berasal dari Indonesia.

As-Sayyid Muhammad bin As-Sayyid Al-Maliki Al-Hasani lebih suka dipanggil oleh semua santrinya dengan sebutan “Abuya” daripada dengan sebutan yang lain. Panggilan Abuya ini bertujuan agar hubungan antara guru dan murid tidak sekedar hubungan dhohir tapi juga hubungan batin, seperti hubungan orang tua dengan anaknya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab المنهج السوي karangan Alhabib Zen bin Ibrohim bin Smith:

آباؤك ثلاثة: أبوك الذي ولدك، والذي زوّجك ابنته، والذي علّمك وهو أفضلهم

“Bapakmu itu ada tiga. Pertama, Bapak yang dengannya kamu lahir ke dunia. Kedua, Bapak yang telah menikahkan anaknya dengan kamu. Ketiga, Bapak yang telah mendidik dan memberimu ilmu, dan dia yang paling utama diantara yang lain”.

Nasab Abuya bersambung hingga Baginda Rasulullah Nabi Muhammad SAW dari jalur Sayyidina Hasan bin Ali ra. Oleh karena itu, dalam penyebutan nama beliau disematkan nisbat الحسني. Mereka adalah anak cucu Baginda Rasulullah Nabi Muhammad saw yang wajib untuk kita muliakan, sebagaimana disebutkan dalam kitab Maulid Ad-Daiba’iy,

“Mereka para Ahlul Bait Nabi adalah manusia suci. Dan ingatlah bahwa mereka adalah para penjaga bumi”.

Abuya As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani ialah pengikut madzhab Imam Malik. Namun kendati demikian, Abuya tidak menyuruh para santrinya untuk mengikutinya dalam bermadzhab, kecuali hanya beberapa orang saja. Bahkan di Ma’had Rushoifah, Abuya sengaja memanggil beberapa Ulama’ yang bermadzab Imam Syafii untuk mengajari Fikih Madzhab Syafii.

Manhaj pendidikan Abuya di dalam mendidik santri-santrinya tercermin dalam beberapa Kalam Hikmah beliau, antara lain:

Abuya lebih mengutamakan Akhlak daripada Ilmu. Beliau berkata: “Aku (mendahulukan) mengajarkan akhlak dan Muru’ah, sebelum mengajarkan ilmu dan kitab.” Beliau lebih mengutamakan Khidmah daripada Ilmu. Dawuh beliau: “Santri yang berkhidmah itu lebih baik bagiku daripada santri yang giat (belajar)”.

Abuya As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani, termasuk Ulama’ yang banyak menghasilkan karya berupa kitab-kitab pedoman Ahlussunnah Waljamaah. Karya-karya beliau lebih dari 100 kitab, baik dalam bentuk cetakan ataupun yang masih berupa  Makhtuthat (manuskrip). Diantara karya beliau yang sangat terkenal adalah “Mafahim yajibu an tushahhah” (Faham-Faham Yang Harus Diluruskan).

Karamah Abuya

Diantara sekian banyak karomah Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani, yaitu doa dan permohonan beliau kepada Allah, “Saya memohon kepada Allah agar ruhku dicabut ketika saya berada di tengah santri-santri dan kitab-kitabku, dan saya dalam keadaan berpuasa”.

Dan ternyata beliau wafat pada tanggal 15 Romadhon 1425 H. atau 30 Oktober 2004 M, ketika beliau berada di kamar yang penuh dengan kitab-kitab dan ditunggui oleh para santri beliau.

Semoga uraian Singkat tentang Abuya as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani, dapat menambah pengetahuan bagi penulis dan pembacanya. Amin. Wallahu A’lam.

Oleh Nur FarichaAktivis at LPM Nabawi Darus-Sunnah yang juga Santri Pondok Pesantren Darus Sunnah sekaligus Mahasiswa Fakultas Dirosat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah.

Artikel ini telah tayang di Pecihitam.org
Read More

Rabu, 04 Desember 2019

Kenal Ulama: Biografi Syeikh Burhanuddin Al Zarnuji Pengarang Ta’limul Muta’alim

Desember 04, 2019

Tokoh | Di kalangan pondok pesantren, khususnya pesantren tradisional, nama Syekh Burhanuddin al-Zarnuji tidak asing lagi di telinga para santri. Burhanuddin Al-Zarnuji dikenal sebagai tokoh pendidikan Islam. Kitabnya yang berjudul Ta’lim al-Muta’allim, kitab ini sangat terkenal dan merupakan kitab sangat popular yang wajib dipelajari di pesantren-pesantren terutama di Indonesia.

Nama lengkap beliau adalah Burhan al-Din Ibrahim al-Zarnuji al-Hanafi. Nama lain yang disematkan kepadanya adalah Burhan al-Islam dan Burhan al-Din. Nama “al-Zarnuji” dinisbatkan pada nama tempat bernama Zurnuj, sebuah nama daerah yang berada di wilayah Turki. Sementara kata “al-Hanafi” diyakini itu adalah nisbat kepada nama mazhab yang dianutnya, yakni mazhab Hanafi.

Hingga kini belum diketahui secara pasti waktu kelahiran syekh Burhanuddin al-Zarnuji ini. Akan tetapi mengenai wafatannya, setidaknya ada dua pendapat ulama. Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa Burhanuddin al-Zarnuji wafat pada tahun 591 H/1195 M, sedangkan pendapat yang kedua mengatakan bahwa beliau wafat pada tahun 840 H/1243 M, sementara itu ada pula pendapat yang mengatakan bahwa Burhanuddin hidup semasa dengan Rida ad-Din an-Naisaburi yang hidup antara tahun 500-600 H.

Perjalanan kehidupan al-Zarnuji tidak dapat diketahui secara pasti. Meski diyakini beliau hidup pada masa kerajaan Abbasiyah di Baghdad, kapan pastinya masih menjadi perdebatan hingga sekarang. Al-Quraisyi menyebut syekh Burhanuddin al-Zarnuji hidup pada abad ke-13 M. Sementara para orientalis seperti G.E. Von Grunebaun, Theodora M. Abel, Plessner dan J.P. Berkey meyakini bahwa al-Zarnuji hidup dipenghujung abad 12 dan awal abad 13 M.

Syekh Burhanuddin Al-Zarnuji menuntut ilmu di Bukhara dan Samarkand, dua tempat yang disebut-sebut sebagai pusat keilmuan, pengajaran dan sebagainya.

Semasa belajar, al-Zarnuji banyak menimba ilmu banyak guru yang diantaranya;

Syeikh Burhan al-Din, pengarang kitab al-Hidayah.
Khawahir Zadah, seorang mufti di Bukhara.
Hamad bin Ibrahim, seorang yang dikenal sebagai fakih, mutakallim, sekaligus adib.
Fakhr al-Islam al-Hasan bin Mansur al-Auzajandi al-Farghani
Al-Adib al-Mukhtar Rukn al-Din al-Farghani yang dikenal sebagai tokoh fiqih dan sastra.
Juga pada Syeikh Zahir al-Din bin ‘Ali Marghinani, yang dikenal sebagai seorang mufti.

Karya termasyhur al-Zarnuji adalah kitab Ta’lim al-Muta’allim Tariq al-Ta’allum, sebuah kitab yang bisa dinikmati dan banyak dijadikan rujukan hingga sekarang. Menurut Haji Khalifah, kitab ini merupakan satu-satunya kitab yang dihasilkan oleh Syekh Burhanuddin al-Zarnuji. Meski menurut peneliti yang lain, Ta’lim al-Muta’allim, hanyalah salah satu dari sekian banyak kitab yang ditulis oleh al-Zarnuji.

Seorang orientalis, M. Plessner, berpendapat bahwa kitab Ta’lim al-Muta’allim ialah salah satu karya al-Zarnuji yang masih tersisa. Plessner mengira kuat bahwa al-Zarnuji punya banyak karya lain, tetapi banyak yang hilang, karena serangan tentara Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan terhadap kota Baghdad pada tahun 1258 M.

Pendapat Plessner ini dikuatkan oleh Muhammad ‘Abd Qadir Ahmad. Menurutnya, ada dua alasan bahwa Burhanuddin al-Zarnuji punya banyak karya tulis, yaitu: Pertama, kapasitas al-Zarnuji sebagai seorang pengajar yang menggeluti bidang ilmunya. Ia menyusun metode pembelajaran yang dikhususkan agar pasa siswa sukses dalam belajarnya. Tidak masuk akal bagi al-Zarnuji, yang pandai dan lama di bidangnya itu, hanya menulis satu buah karya saja.Kedua, ulama-ulama yang hidup semasa al-Zarnuji telah menghasilkan banyak karya. Karena itu, bisa dikatakan mustahil bila syekh al-Zarnuji hanya menulis satu buku saja.


Tentang ada tidaknya karya lain yang dihasilkan al-Zarnuji sebenarnya dilukiskan al-Zarnuji sendiri dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim, yang dalam salah satu bagian potongannya ia mengatakan: “…kala itu guru kami syeikh Imam ‘Ali bin Abi Bakar semoga Allah menyucikan jiwanya yang mulia itu menyuruhku untuk menulis kitab Abu Hanifah sewaktu aku akan pulang ke daerahku, dan aku pun menulisnya…” . Hal ini bisa memberikan gambaran bahwa al-Zarnuji sebenarnya mempunyai karya lain selain kitabnya yang berjudul Ta’lim al-Muta’allim. Namun telepas dari perbedaan pendapat itu, syek Burhanuddin al-Zarnuji merupakan tokoh yang telah memberikan sumbangan berharga bagi perkembangan ilmu agama dan zaman. Wallahua’lam Bisshawab.

Oleh Arif Rahman Hakim, Pengurus PWCINU dan LAZIZNU Okinawa - Jepang Tahun 2017.

Artikel telah tayang di Pecihitam.org
Read More